Jumat, Juli 03, 2015

Photoblog : Dibuang Sayang (Sesi Gladi Bersih Tari Kolosal HUT Kabupaten Mahakam Ulu)

Tari Enggang : Alen dan Harai

Tari Seraung : Olivia Trinita

Olivia Trinita


Tari Perang

Pembawa bendera sedang berlatih untuk tampil keesokan hari

Grup penyumpit


Kamis, Juli 02, 2015

Monumen Pemberontakan Tentara PETA di Blitar

"DI TEMPAT INI, PADA TANGGAL 14 FEBRUARI 1945 TEPAT PADA JAM 02.30 DINI HARI BERDENTUMLAH SUARA MORTIR YANG PERTAMA SEBAGAI TANDA DICETUSKANNYA PEMBERONTAKAN TENTARA PETA BLITAR YANG DIPIMPIN SODANCHO SUPRIYADI MELAWAN PENJAJAH JEPANG. BERSAMA DENGAN GERAKAN PASUKAN TERSEBUT DIKIBARKANLAH BENDERA PUSAKA MERAH PUTIH DITIANG BENDERA LAPANGAN APEL TENTARA PETA YANG TERLETAK DI SEBERANG MARKAS DAIDAN."
Demikian isi tulisan yang terpampang di plakat yang terletak di bawah patung 7 pejuang PETA yakni Sodancho Supriyadi, Chudancho dr Soeryo Ismail, Shodancho Soeparjono, Budancho Soedarmo, Shodancho Moeradi, Budancho Halir Mangkoe Dijaya, dan Budancho Soenanto. Di bawah komando Supriyadi, mereka bahu-membahu melawan Jepang. Padahal tentara PETA merupakan bentukan militer Jepang supaya dapat mehanan gempuran dari sekutu. Namun karena muak dengan perlakuan para tentara Jepang kepada rakyat, dicetuskanlah pemberontakan itu. Monumen ini terletak di sebelah selatan Taman Makam Pahlawan, tepatnya di sebuah lapangan di belakang tenda-tenda penjual makanan. Monumen ini sempat mengalami pemugaran dan kemudian diresmikan ulang pada tanggal 14 Februari 2008 yang bertepatan pada hari peringatan Pemberontakan PETA di Blitar.

Desi Dwistratanti Sumadio, rekan satu tim, berfoto dibawah monumen tujuh pejuang PETA

(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat di re-publish di blog ini)
Link Asli

Rabu, Juli 01, 2015

Goa Tabuhan, Goa Musik

Tak salah kota Pacitan memiliki julukan Kota 1001 Goa, karena memang banyak memiliki goa-goa nan eksotis. Hari ini (08/10/2010) kami, Tim Petualang Jawa Tengah & Yogyakarta, berkesempatan mengunjungi Goa Tabuhan yang berjarak sekitar 25 kilometer dari arah barat kota Pacitan, tepatnya terletak di Desa Wareng, Kecamatan Punung. Akses jalan menuju Goa Tabuhan tergolong mulus beraspal nyaris tanpa hambatan sehingga perjalanan terasa nyaman sambil menikmati suasana pedesaan. Begitu turun dari mobil kami langsung dibuat terkagum-kagum oleh ragam bentuk stalagtit (kerucut di langit-langit) dan stalagmit (kerucut di lantai) di mulut goa. Cukup satu kata untuk menggambarkannya : mempesona! Setelah membayar tiket masuk seharga Rp. 4000/orang, kami segera menaiki anak tangga menuju goa.
Tampak luar Goa Tabuhan

Suasana di dalam goa relatif sejuk. Pengunjung sangat disarankan untuk menyewa senter dari penjaga yang dapat merangkap sebagai tour guide supaya bisa menjelajah goa lebih dalam karena memang relatif agak gelap dan supaya tidak terbentur oleh stalagmit dan stalagtit yang rendah. Tentu tidak mau dong, pulang dengan kepala benjol? Biayanya pun cukup seikhlasnya saja. 
Juntaian stalagtit dan stalagmit di mulut goa

Diyakini pada pada jaman dahulu goa ini dipakai bersembunyi dan bertapa oleh Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya. Ini dapat dilihat dari adanya sebuah ruangan kecil yang di ujung goa yang diyakini dipakai sebagai tempat bertapa. Keunikan goa ini yakni disini pengunjung dapat menikmati penampilan para musisi menabuh stalaktit dan stalagmit goa menjadi alunan musik khas Jawa. Sungguh unik dan ajaib, dari sinilah asal nama Goa Tabuhan berasal. Namun itu tidak gratis, pengunjung akan diminta membayar Rp. 70.000 apabila ingin melihat para pemusik tersebut beraksi. Tapi demi melihat keunikan ini, tentu harga tersebut tidak terlalu mahal kan? Hitung-hitung ikut membantu perekonomian masyarakat sekitar. Jangan lewatkan pasar oleh-oleh berupa batu akik di pelataran parkir. Bila pandai menawar Anda bisa mendapat beberapa batu akik dengan harga yang sangat murah.


(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat di re-publish di blog ini)

Selasa, Juni 30, 2015

The Legendary Malioboro, Jogjakarta



Sejak lama saya memimpikan untuk menyusuri sendiri jalan Malioboro, Yogyakarta. Yang katanya belum lengkap ke Yogyakarta apabila belum datang ke tempat ini. Selama ini hanya mendengar dan melihat di televisi saja mengenai tempat ini. Dan akhirnya kemarin kesempatan itu datang juga. Di suatu siang yang lumayan terik, dikarenakan sedang tidak ada kegiatan di hotel, saya pun diam-diam "kabur" menuju jalan Malioboro yang letaknya ternyata tak jauh dari hotel. Cukup berjalan kaki beberapa meter nampaklah lokasi yang terkenal se-dunia ini. Saya segera susuri deret-deret toko dan lapak-lapak penjual cindermata dan oleh-oleh ini untuk merasakan langsung suasananya dan merekamnya di ingatan sedetail mungkin pengalaman pertama ke Malioboro ini.
Sepanjang mata memandang terdapat toko-toko dan pedagang kaki lima yang sibuk menjajakan dagangannya. Aktivitas jual beli berlangsung dengan riuh dimana para penjual dan pembeli saling tawar menawar harga. Sedangkan di bagian tepi, para tukang becak dengan setia menunggu calon penumpang yang bersedia memakai jasa mereka. Karena sedikit lapar, saya pun singgah sebentar ke penjual bakso lalu kemudian melanjutkan jalan-jalan saya. 
Kemudian nampaklah bangunan besar bernama Malioboro Mall. Wah, tanpa membuang waktu saya segera masuk ke dalamnya untuk menumpang ngadem sejenak. Rupanya sedang ada perlombaan tari disana, hingga suasana menjadi sangat ramai dan padat. Setelah puas keliling mall beberapa saat dan membeli buku, lalu saya kembali keluar untuk menyusuri pinggiran jalan Malioboro. Belum ada barang yang sreg untuk dibeli karena itu saya memutuskan kembali ke hotel. Semoga saja sebelum petualangan saya di Yogyakarta berakhir, saya masih berkesempatan mengunjunginya sekali lagi.



(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat di re-publish di blog ini)
Link Asli

Senin, Juni 29, 2015

Mengejar Sunset di Candi Ratu Boko



Sore itu, pada saat jam menunjukkan pukul 16.00 kami segera mengarahkan kendaraan menuju Candi Ratu Boko, yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. 

Diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-8 pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Sedangkan fungsinya diduga sebagai tempat menyepi dan peristirahatan. Dengan tiket seharga Rp. 30.000, pengunjung mendapatkan transportasi gratis dari Candi Prambanan menuju Candi Ratu Boko. 

Sang mentari telah hampir terbenam
Tujuan kami ke candi ini pada sore hari yakni untuk melihat terbenamnya matahari atau sunset dalam bahasa inggris, yang konon kabarnya pemandangan sunset dari situs Candi Ratu Boko merupakan yang terindah se-Asia Tenggara. Tak ingin terlambat, begitu sampai di parkiran kami setengah berlari menaiki anak-anak tangga menuju candi yang posisinya berada di atas bukit. Untungnya matahari masih menggantung di langit, belum terbenam. Segeralah kami menuju spot terbaik yang berada di Candi Pembakaran yang posisinya agak tinggi. Dan benar saja, pemandangan sunset dari Candi Boko benar-benar indah! Dengan cuaca yang cerah, matahari terlihat bulat di langit yang berwarna lembayung. Tentu saja momen ini tak akan dilewatkan tanpa foto-foto. Secara perlahan-lahan sang surya kembali ke peraduan, penanda sudah saatnya kami pulang. Sungguh indahnya alam Indonesiaku. Semoga di lain waktu saya berkesempatan mengunjunginya lagi.



(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat di re-publish di blog ini)
Link Asli

Minggu, Juni 28, 2015

Borobudur, Sebuah Karya Leluhur Nan Agung

Puncak tertinggi Candi Borobudur
Di hari Minggu (10/10/2010) yang cerah, saya dan Desi berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur yang namanya terkenal hingga penjuru dunia itu. Arti nama Borobudur yaitu "biara di perbukitan", yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan "beduhur" (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha. Candi Borobudur ini letaknya berada di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Candi ini sejak tahun 1991 telah ditetapkan sebagai World Heritage Site atau Warisan Dunia oleh UNESCO. 
Kami membayar tiket masuk yang seharga Rp.30.000, harga ini sudah termasuk tiket masuk dan transportasi gratis ke Candi Ratu Boko sehingga lebih hemat sekian ribu rupiah. Sebelum menaiki candi, saya dan Desi beserta Mas Bowo, pemandu kami, menyewa sepeda untuk berkeliling areal seputaran candi. Setelah puas berkeliling, barulah kami naik ke Candi Borobudur. Baru saja naik beberapa anak tangga, kami dibuat heran dengan kedatangan ambulance ke areal candi. Wah, rupanya ada remaja yang terjatuh dari tepi candi dikarenakan asyik berfoto di pinggiran candi dengan memegang stupa yang tidak kuat. Alhasil si remaja pria itu jatuh ke bawah beserta stupa tersebut, tapi untungnya si remaja tidak apa-apa, hanya kesakitan saja dan lalu kemudian ditandu ke dalam ambulance. Sementara stupa itu menjadi rusak karena jatuh. Entah apa yang terjadi dengan si remaja, apakah terkena denda atau tuntutan hukum karena merusak bagian candi. 
Borobudur dari kejauhan
Setelah itu petualangan di Candi Borobudur kami lanjutkan kembali dengan langsung menuju bagian atas candi yang pemandangannya sangat indah. Kita dapat melihat pemandangan bukit-bukit nan hijau dan pegunungan. Tentu saja kami tak melewatkan momen ini dengan foto-foto sejenak untuk membagikannya kepada pembaca detikcom. Semoga pembaca sekalian dapat pula mengunjunginya di lain waktu ya.
Salam Indonesia!

(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat dire-publish di blog ini)
Link Asli

Sabtu, Juni 27, 2015

Istana Air Taman Sari yang Asri

Salah satu sudut Taman Sari
Salah satu tujuan wisata kami, tim Jawa Tengah dan Yogyakarta, hari ini (15/10/2010) adalah Istana Air Taman Sari. Tempat ini dulunya mempunyai banyak fungsi, seperti benteng pertahanan terhadap para musuh, meditasi bagi raja, tempat mandi para selir-selir sultan dan juga tempat membuat batik. Letaknya hanya 0,5 km di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, apabila di tempuh dengan jalan kaki kira-kira 15 menit. 
Didirikan pada tahun 1758, arsitektur bangunan ini mendapat pengaruh dari Hindu, Budha, Jawa, Islam, Cina, dan Eropa. Namun unsur Jawa tetap paling dominan. Terdapat lorong-lorong rahasia di tempat ini yang konon katanya terdapat jalan rahasia yang menghubungkan Taman Sari dengan Keraton Yogyakarta, bahkan ada pula yang mengatakan lorong ini tembus hingga ke pantai selatan sebagai jalan masuk Nyi Roro Kidul untuk bertemu dengan sultan. 
Mengelilingi Taman Sari serasa tak ada habisnya. Suasana yang asri dan adem membuat betah mengunjunginya. Ada banyak ruangan yang menarik untuk dikunjungi. Salah satu bagian dari Taman Sari yang menarik bagi kami adalah Kolam Pemandian yang dahulu digunakan oleh sultan, keluarga dan para selir untuk mandi. Sang sultan akan mengadakan permainan melempar bunga, selir mana yang mendapatkan bunga tersebut akan mendapat kesempatan mandi bersama sultan dan tidur bersama di kamar yang terletak tak jauh dari kolam. Setelah itu kami pun mengunjungi kamar permaisuri, anak-anak sultan, bahkan bekas dapur. Sekitar jam dua siang, perjalanan kami di Taman Sari pun harus diakhiri. 
Kami harap semoga kecantikan Taman Sari tak akan lekang di makan waktu sampai kami kembali dengan mengajak keluarga di lain waktu. Salam Indonesia!


Gerbang masuk ke Taman Sari
(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat di re-publish di blog ini)

Jumat, Juni 26, 2015

Grojogan Sewu Nan Seru

Pintu masuk dan loket pembelian tiket Grojogan Sewu
Grojogan Sewu, salah satu air terjun ini kami kunjungi di hari ke-3 (06/10/2010) perjalanan kami melintasi Jawa Tengah hingga Yogyakarta. 
Berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, kawasan wisata Grojogan Sewu di Kabupaten Tawangmangu ini menawarkan berbagai macam objek wisata untuk seluruh keluarga. Mulai dari water park anak-anak, flying fox, arung jeram mini, kolam renang dewasa hingga yang paling utama yakni air terjun setinggi 81 meter yang menjuntai dengan indah. 
Grojogan Sewu sendiri artinya air terjun seribu, namun air terjun di tempat ini tidaklah berjumlah seribu melainkan ada beberapa titik air terjun yang bisa pengunjung nikmati. 
Dengan biaya masuk seharga Rp 6.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 19.000 untuk wisatawan mancanegara, di dekat pintu masuk pengunjung akan disambut oleh puluhan monyet ekor panjang. Setelah membayar tiket masuk, kita dipersilahkan menuruni ratusan anak tangga untuk menuju lokasi yang berada di lembah, jadi siapkan stamina sebaik mungkin. Namun pemandangan hutan yang indah dan udara yang segar menjadi obat lelah yang mujarab. 
Begitu sampai dibawah apabila ingin menjajal flying fox siapkan dana sebesar Rp 10 ribu per orang, dan arung jeram pun memiliki kisaran harga yang sama. Tips untuk pengunjung, sebaiknya dompet, kamera dan handphone disimpan di tempat yang aman agar tidak diambil oleh monyet-monyet dan siapkan stamina karena anak tangga di Grojogan Sewu totalnya 1.250 anak tangga!



(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com, beberapa informasi mungkin mengalami perubahan pada saat di re-publish di blog ini)


Main Gong di Goa Gong, Pacitan

Goa Gong dilihat dari anak tangga teratas

Goa Gong merupakan salah satu dari beberapa goa yang terdapat di Kabupaten Pacitan yan mempunyai julukan Kota Seribu Goa. Terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Pacitan. Kami berkesempatan mengunjunginya pada tanggal 8 Oktober 2010 lalu. Cukup membayar tiket masuk sekitar Rp. 4.000/orang, kita berkesempatan melihat fenomena alam ini. 

Tak sabaran ingin melihatnya, kami langsung memasuki mulut goa. Rupanya goa ini sudah mendapat sentuhan manusia berupa jalan setapak dengan anak-anak tangga dan pegangan yang terbuat dari besi sehingga tak perlu takut terpeleset. Terdapat pula beberapa kipas besar untuk mengalirkan udara, namun tetap saja beberapa kali keringat mengucur karena kegerahan. Menariknya terdapat hiasan lampu berwarna-warni yang diarahkan ke stalaktit dan stalakmit guna memberikan efek spektakuler.
Stalaktit dan stalakmit yang menjuntai indah

Mengapa dinamai Goa Gong? Menurut penduduk setempat dulunya terdapat suara-suara menyerupai gong dari dalam goa. Dipertengahan jalan, pemandu kami menunjukkan stalaktit yang dapat dipukul dan mengeluarkan suara seperti gong. Satu persatu, kami pun mencobanya. Di dalam goa ini terdapat pula beberapa kolam yang dipercaya memiliki beragam khasiat.
Goa Gong ditemukan oleh dua orang warga Desa Bomo pada tahun 1924, kemudian mulai dibuka untuk umum pada tahun 1995. Jasa pemandu dan senter disediakan oleh warga setempat dengan tarif sekitar Rp 25.000. Sepulang dari Goa Gong sempatkan mampir di kios batu akik dan batu hias didekat tempat parkir, siapa tahu ada yang menarik hati dan dijadikan oleh-oleh.
Sudut Goa Gong yang temaram



(Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detik.com)

Kemeriahan HUT Kabupaten Mahakam Ulu ke-2

Penari Hudoq sedang beraksi dihadapan penonton

Bertempat di Lapangan Sepakbola Kampung Ujoh Bilang, ibukota Kabupaten Mahakam Ulu, pada tanggal 20 Mei 2015 bertepatan dengan HUT Kabupaten Mahakam Ulu yang ke-2, digelar pertunjukan Tari Kolosal yang melibatkan ratusan penari gabungan dari berbagai SKPD, siswa SD, SMP dan SMA se-Mahakam Ulu. Ratusan penonton terdiri dari staf SKPD dan masyarakat berbaur untuk menonton pertunjukan tersebut walau matahari cukup menyengat.
Berikut adalah foto-foto yang saya jepret saat acara berlangsung.

Penari Hudoq bersiap di posisi

Penari sedang bersiap tampil

Penari perwakilan SMA Negeri 1 Long Bagun 

Tari Seraung
Salah seorang peserta Tari Perang memperagakan adegan berburu


Pemeran Dayak Warrior yang akan menyerahkan bucket bunga kepada Pj. Bupati Mahakam Ulu

Anastasia Hiyang, S.IP (Staf Dinas Prhubungan dann Pariwisata Mahakam Ulu), pemeran Dayak Princess yang menyedot perhatian penonton

Anastasia Hiyang, S.IP sedang berpose di depan fotografer dan jurnalis

Selamat Ultah Kabupaten Mahakam Ulu, semangat membangun dan sukses selalu.

Sabtu, November 12, 2011

11.11.11

Tanggal yang cantik untuk hari yang indah ini. Berderet dengan angka kembar. Ya, di hari ini banyak yang mengenangnya dengan momen-momen yang indah.
Ada yang melakukan lamaran, kelahiran bayi, opening ceremony SEA Games ke-26 di Palembang, hingga melakukan akad nikah secara live di TV ala Ustadz Solmed dan April Jasmin.
Well, apa pun itu. Semoga hari ini akan selalu dikenang dan membekas di hati masing-masing. Karena tanggal serupa tak mungkin terulang dua kali.

Kamis, Juli 14, 2011

Mampir ke Istana Gebang di Blitar


Pada saat kami sampai di Blitar (07/10/2010), salah satu tujuan kami mengunjungi rumah orang tua Bung Karno yang memiliki nama lain Istana Gebang. Letaknya tak terlalu jauh dari makam Bung Karno, lokasinya berada di Jl. Sultan Agung No.69, Blitar. Disinilah Presiden RI pertama ini tinggal pada masa remajanya.
Di ruang tamu terdapat berbagai kursi tamu terbuat dari rotan. Berbagai macam lukisan dan koleksi benda-benda antik menghiasi ruang tamu hingga ruang tengah. Sedangkan di bagian belakang terdapat rumah para penjaga dan sebuah garasi berisikan Mercedes Benz 190 berwarna hitam yang katanya sering digunakan oleh Bung Karno. Di sisi kanan rumah terdapat balai kesenian yang dulu sering digunakan untuk pementasan seni. Setiap tahunnya rumah ini selalu ramai dikunjungi masyarakat pada saat peringatan haul (peringatan wafatnya) Bung Karno yang biasanya digelar mulai 19-21 Juni.

(Berdasarkan pengalaman mengikuti program AKU CINTA INDONESIA 2010 oleh Detikcom)

Selasa, Mei 17, 2011

Sejarah Kelam Pada Monumen Kresek di Madiun


Apabila Anda berkesempatan mengunjungi kota Madiun, tak ada salahnya mengarahkan kendaraan ke Monumen Kresek yang berlokasi sekitar 8 km dari kota Madiun tepatnya di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Lokasi ini merupakan saksi bisu ganasnya para anggota PKI, dimana para anggota TNI dan pamong desa dibantai dan disiksa dengan biadab pada tahun 1948. Di lokasi yang seluas 2 hektar ini dapat kita temukan patung, monumen dan relief untuk mengenang peristiwa keji tersebut.

Monumen ini diresmikan pada tanggal 10 Juni 1991 oleh Gubernur TK 1 Jawa Timur yang menjabat waktu itu, yakni H. Soelarso. Di bagian atas monumen bisa kita lihat relief, patung dan prasasti peresmian yang berisikan pesan-pesan bagi generasi muda agar tetap mempertahankan semangat Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan di bawah, di dekat pendopo dapat kita lihat prasati lain yang bertuliskan nama-nama korban tewas. Tak perlu takut kehausan dan bahkan kelaparan karena di lokasi ini terdapat warung-warung dan pendopo untuk beristirahat, toilet umum pun tersedia. Pada hari-hari biasa keadaan di monumen ini relatif sepi, sedangkan pada akhir minggu dipastikan ramai.









(Cerita ini berdasarkan pengalaman mengikuti program AKU CINTA INDONESIA oleh Detikcom, 2010)

Link asli

Senin, Mei 09, 2011

Eksotisme Pantai Selatan Yogyakarta

Relax di Pantai Sadranan
(Cerita ini berdasarkan pengalaman mengikuti program Aku Cinta Indonesia oleh Detikcom, 2010)

Girangnya hati ini karena tahu tujuan wisata hari ini (14/10/2010) semuanya adalah pantai!! Apalagi pantainya adalah pantai-pantai yang terdapat di wilayah pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang cihuy dan pemandangannya yang dahsyat. Sebagai orang yang tinggalnya di kota yang tak memiliki pantai (hanya sungai), melihat pantai adalah hal yang langka. 

Pantai pertama yang kami tuju adalah Pantai Sadeng yang terletak di Girisubo, Gunung Kidul. Konon dulunya pantai ini adalah muara dari sungai Bengawan Solo Purba, tapi karena adanya proses geologis Lempeng Australia yang menghujam ke bawah Pulau Jawa sehingga aliran sungai berbalik arah ke utara. Pantai ini sekarang dijadikan pelabuhan/pelelangan ikan namun sangatlah rapi dan teratur. Kapal-kapal dan pondok-pondok nelayan berjejer dengan tertib. Disini kami menikmati beberapa potong tempe goreng dan sedikit foto-foto. Selama perjalanan mencapai pantai ini kita dapat menikmati pemandangan batu kapur yang indah. 

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Wedi Ombo yang letaknya berada di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Gunung Kidul. Debur ombak nan menjulang menyambut kedatangan kami. Batu-batu karang pun serasa memanggil kami untuk menaikinya. Tanpa buang waktu kami segera pasang aksi di depan kamera. Oya, siapkan uang Rp. 1.000/orang untuk tiket masuk dan biaya parkir sebesar Rp. 1.500.  
Pantai Wedi Ombo



Pantai Sundak berada di daftar tujuan kami selanjutnya. Tanpa buang waktu roda mobil segera diarahkan ke Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Nama pantai ini konon asalnya karena tempat ini digunakan sebagai tempat pertarungan antara anjing dan landak. Debur ombak dan batu-batu karang memanjakan mata kami. 

Berikutnya, Pantai Sadranan tak luput pula dari kunjungan kami. Disini pantainya sangatlah bersih dan nampak masih alami. Tak kami temui kotoran/sampah plastik di pantai ini. Mungkin karena belum banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini atau bisa juga karena ketelatenan Pak Sugeng (71 tahun) penjaga tempat ini. Beliau telah bermukim disini sekitar 11 tahunan. Disinilah tempat yang pas bagi kami untuk berbasah-basahan. Segera saja satu persatu menceburkan diri ke air pantai, bermain dengan ombak-ombak. Rasa lapar pun datang, maka kami sudahi bermain di Pantai Sadranan dan menuju Pantai Kukup. Hanya numpang makan saja di pantai ini dan tidak turun ke pantainya karena hari sudah sore.Wah, puas sekali petualangan di pantai selatan hari ini, semoga pantai-pantainya tetap terawat dan lain waktu punya kesempatan mengunjunginya lagi. Salam Indonesia!

Minggu, Maret 20, 2011

Keraton Jogja Nan Bersahaja

Letaknya berada di pusat kota Yogyakarta. Keraton merupakan tempat tinggal raja-raja Yogyakarta. Setiap hari Keraton dapat dikunjungi wisatawan mulai pukul 08.30 hingga pukul 13.30, sedangkan pada hari Jum'at Keraton buka hanya sampai pukul 11.00 saja. Sebagian wilayah Keraton digunakan sebagai museum yang menyimpan beragam barang-barang bernilai seni tinggi mulai dari batik hingga kristal-kristal pemberian raja-raja Eropa.

Keraton ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I di tahun 1775. Istana para Sultan Yogyakarta ini memiliki tujuh kompleks inti, yakni Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Keraton Yogyakarta berada diantara dua alun-alun yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang kurang lebih 100x100 meter.

photo by : @dds722



Secara keseluruhan Keraton Yogyakarta berdiri di atas tanah 1,5 km persegi. Sultan yang memimpin saat ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Harga tiket masuk tergolong murah, hanya Rp. 3.000/orang, sedangkan apabila membawa kamera dikenakan tambahan biaya sebesar Rp. 1.000.

(Cerita ini berdasarkan pengalaman mengikuti program AKU CINTA INDONESIA oleh Detikcom 2010)


Rabu, Februari 09, 2011

Mengintip Candi Kamasutra



Candi Kamasutra? Candi erotis? Julukan bagi Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini membuat saya penasaran untuk melihat langsung seperti apa arsitektur bangunan yang didirikan sekitar abad ke 15 ini. Tanpa buang waktu begitu ada kesempatan hari ini (05/10/2010), kami segera mengarahkan kendaraan ke Desa Sukuh, Kabupaten Karanganyar. Tak perlu takut tersesat karena kita dapat bertanya arah kepada warga sekitar untuk bertanya arah. Jalan masuk menuju candi yang berjarak sekitar 2 kilometer menawarkan panorama hamparan hijau kebun teh yang seperti turut menemani kami sepanjang perjalanan menuju Candi Sukuh.

Sesampainya di pelataran parkir, udara segar langsung menyambut. Maklum saja, candi ini posisinya berada di 1.186 meter di atas permukaan laut jadi dijamin bebas dari polusi. Melihat arsitektur Candi Sukuh dari jauh yang berundak-undak, saya langsung teringat dengan piramida bangsa Maya di Amerika Selatan karena bentuknya serupa tapi tak sama.

Diburu rasa penasaran, kami segera menuju loket pembelian tiket masuk di bagian depan seharga Rp 2.500 per orang. Memasuki kawasan candi, saya segera mencari tahu mengapa candi ini diberi julukan demikian. Terdapat papan informasi di depan tapi karena ingin menguak sendiri rahasia Candi Sukuh, maka saya melewatkannya. Kemudian secara tak sengaja melintasi teras pertama candi, saya cukup terkejut karena didalamnya terdapat relief di lantai yang menggambarkan kejantanan pria dan kesucian wanita yang bersentuhan. Setelah mencari tahu, ternyata simbol ini merupakan lambang kesuburan, jadi bukan bermakna yang negatif.

Memasuki teras kedua, terdapat beberapa patung yang berdiri tegak tapi tanpa kepala. Entah rusak dimakan usia atau ada tangan-tangan iseng? Nah, kemudian di teras ketiga terdapat candi induk yang sebelumnya saya lihat dari tempat parkir, dengan ornamen-ornamen berupa relief dan patung-patung di kiri dan kanannya. Pengunjung dapat memasuki candi induk dan sampai di bagian atas yang berupa bujur sangkar ini dengan menaiki undakan-undakan yang lumayan tinggi yang konon katanya di desain seperti ini karena pada jaman dahulu dipergunakan sebagai alat tes keperawanan bagi para gadis, jika selaput dara si gadis robek lalu berdarah maka dia dianggap masih perawan, tapi apabila sudah tidak perawan maka ketika menaiki undakan candi induk ini maka kain yang dikenakannya akan robek lalu lepas. Bentuk candi ini pun disebut-sebut merupakan representasi dari rahim wanita.

Sekedar info, Candi Sukuh ini merupakan candi termuda di Indonesia karena sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit di abad ke 15 tidak ditemui lagi pembangunan candi di Indonesia. Sedikit tips, sebelum menuju candi ini yaitu agar memastikan kendaraan yang dipergunakan berada pada kondisi yang prima dikarenakan jalan masuk yang berupa kelokan, jurang dan tanjakan serta tidak meninggalkan sampah plastik atau benda-benda yang tidak dapat di daur ulang demi kelestarian dan kebersihan lingkungan Candi Sukuh. 

(Cerita ini berdasarkan pengalaman mengikuti program AKU CINTA INDONESIA oleh Detikcom, 2010)

Selasa, September 14, 2010

Horeeee! (Diterima ACI Detikcom)

Menjelang ulang tahun ke 24 yang jatuh tanggal 13 September tadi diriku mendapat sebuah kejutan besar...yaitu ternyata aku menang sebagai salah satu dari 66 peserta program Aku Cinta Indonesia garapan detikcom dimana hadiahnya jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Indonesia. Berdasarkan penentuan oleh pihak panitia, daerah wisata yang akan aku kunjungi adalah Jawa Tengah & DIY Yogyakarta pada tanggal 04 Oktober nanti, selama 14 hari pula!! Horeeee... senangnya diriku, secara belum pernah kesana sekalipun. Jane Kambey, teman satu kota di Samarinda, pun tercatat sebagai salah satu dari 66 pemenang. Daerah wisata yang dia dapat adalah Jakarta & Kepulauan Seribu.

Senin, September 13, 2010

B-Day

Tuhan terima kasih saya bisa merayakan ultah ke 24 saya bersama orang2 yang saya kasihi. Terima kasih pula atas segala anugerah yang luar biasa saya terima di bulan yang menakjubkan ini, salah satunya memenangkan program ACI detik.com (tentang ini saya ceritakan di lain waktu). Lindungi saya disetiap perjalanan hidup saya ya Tuhan agar jangan sampai pernah tersesat di jalan yang salah. Amin.

Jumat, Agustus 20, 2010

Ikutan Aku Cinta Indonesia Detikcom

Dalam rangka ultahnya yang ke 12, portal berita detikcom ngadain program Aku Cinta Indonesia (ACI) yang bertujuan mengajak pembacanya jalan-jalan keliling Indonesia. 66 Orang yang terjaring dalam program ini nantinya terbagi dalam 33 tim untuk menjelajah 33 pilihan wilayah wisata di Indonesia dalam waktu 2 minggu. Seluruh biaya termasuk transportasi, akomodasi dan uang saku akan ditanggung oleh detikcom. Di akhir program, tim dengan pengalaman yang paling menarik akan diganjar Rp 100 juta. Wow! Siapa yang tak tergiur!
Dan begitu tau pendaftarannya cukup simple, cuma lewat web, langsung saja diriku mendaftar. Diminta mengunggah foto wisata & sedikit bercerita wisata daerah setempat pun diriku lakukan. Foto yang kuunggah sewaktu jalan-jalan liburan lebaran tahun lalu ke Danau Bahadaq di Kampung Tering, Kutai Barat kampung halaman nenek (foto dibawah). Tunggu menunggu (sampai sempet lupa), tahu-tahu ada email yang memberitahu bahwa diriku lolos semifinal dan diminta menjawab beberapa pertanyaan agar lolos ke babak final (500 orang finalis).

Kamis, Februari 25, 2010

Membuat Animasi Tulisan Bergaya Ketikan

Berikut ini tips singkat untuk membuat animasi tulisan seperti huruf ketikan. Caranya cukup mudah dengan menggunakan layanan dari wigflip.com. Contohnya seperti ini:

Copyright © 2014 My Dream, My Life, My Journey